Generated image

Untuk keterangan lanjut,

Showing posts with label info berguna. Show all posts
Showing posts with label info berguna. Show all posts

Monday, December 21, 2009

cara membuat tau fu fa

Assalamualaikum,

Kepada yang berminat untuk berniaga tapi x tau nak jual apa? mungkin boleh memulakan dengan menjual tau fu fa.

kepada penggemar tau fu fa pula, mungkin boleh dicuba sendiri di rumah,


semoga ada manfaatnya,


Cara buat tauhu (tau fu fa)

1) air soya 100% (1 kg soya, 1kg air)

2) masak air perahan soya

3) tuang 1kg dalam baldi dan campur dgn plaster of paris sebanyak 3 sudu besar (tadak plaster ni ganti dgn cuka 1 ~2 sudu besar)

4) tunggu hingga jadi ketul-ketul dan pengasingan air dan fiber soya..

5) tuang dalam besen dan pastikan dibalut dgn kain kasa (serap air)

6) tekan acuan hingga mampat….tunggu hingga 10 minit

tauhu siap dipotong atau dimakan

tffhalaltreasure



regards,

Sukor Abdullah

0194735696

Thursday, December 10, 2009

Sabun jadi penemuan penting umat islam


resep pembuatan sabun yang lengkap tercatat dalam sebuah risalah bertarikh abad 13 M.

resep pembuatan sabun yang lengkap tercatat dalam sebuah risalah bertarikh abad 13 M.

SABUN (SuaraMedia) Salah satu penemuan penting yang dicapai umat Islam di era keemasan adalah sabun. Sejak abad ke-7 M, umat Muslim telah mengembangkan sebuah gaya hidup higienis yang mutakhir. Menurut Ahmad Y Al-Hassan dalam bukunya berjudul, Technology Transfer in the Chemical Industries, kota-kota Islam seperti Nablus (Palestina), Kufah (Irak), dan Basrah (Irak) telah menjadi sentra industri sabun.

"Sabun yang kita kenal hari ini adalah warisan dari peradaban Islam," papar Al-Hassan. Menurut Al-Hassan, sabun yang terbuat dari minyak sayuran, seperti minyak zaitun serta minyak aroma, pertama kali diproduksi para kimiawan Muslim di era kekhalifahan. Salah seorang sarjana Muslim yang telah mampu menciptakan formula sabun adalah Al-Razi--kimiawan legendaris dari Persia.

"Hingga kini, formula untuk membuat sabun tak pernah berubah," cetus Al-Hassan. Sabun yang dibuat umat Muslim di zaman kejayaan sudah menggunakan pewarna dan pewangi. Selain itu, ada sabun cair dan ada pula sabun batangan. Bahkan, pada masa itu sudah tercipta sabun khusus untuk mencukur kumis dan janggut.

Harga sabun pada 981 M berkisar tiga Dirham (koin perak) atau setara 0,3 Dinar (koin emas). Resep pembuatan sabun di dunia Islam juga telah ditulis seorang dokter terkemuka dari Andalusia--Spanyol Islam--bernama Abu Al-Qasim Al-Zahrawi alias Abulcassis (936-1013 M). Ahli kosmetik ini memaparkan tata cara membuat sabun dalam kitabnya yang monumental bertajuk, Al-Tasreef.

Al-Tasreef merupakan ensiklopedia kedokteran yang terdiri atas 30 volume. Kitab itu telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan digunakan sebagai buku referensi utama di sejumlah universitas Eropa terkemuka. Sang dokter memaparkan resep-resep pembuatan beragam alat kosmetik pada volume ke-19 dalam kitab Al-Tasreef.

Selain itu, resep pembuatan sabun yang lengkap tercatat dalam sebuah risalah bertarikh abad 13 M. Manuskrip itu memaparkan secara jelas dan detail tata cara pembuatan sabun. Fakta ini menunjukkan betapa dunia Islam telah jauh lebih maju dibandingkan peradaban Barat. Masyarakat Barat, khususnya Eropa, diperkirakan baru mengenal pembuatan sabun pada abad ke-16 M.

Namun, Sherwood Taylor (1957) dalam bukunya berjudul, A History of Industrial Chemistry, menyatakan, peradaban Barat baru menguasai pembuatan sabun pada abad ke-18 M. Sejatinya, menurut RJ Forbes (1965) dalam bukunya bertajuk, Studies in Ancient Technology, campuran yang mengandung sabun telah digunakan di Mesopotamia.

"Mereka belum mengenal sabun, tapi beberapa deterjen telah digunakan," ungkap Forbes. Menurut dia, dunia klasik belum memiliki deterjen yang lebih baik. Penemuan sabun yang tergolong modern memang baru diciptakan pada masa kejayaan Islam.

Sejarah pembuatan sabun di dunia Islam dicatat secara baik oleh Raja Al- Muzaffar Yusuf ibn `Umar ibn `Ali ibn Rasul ( wafat 1294 M). Dia adalah seorang Raja Yaman yang berasal dari Dinasti Bani Rasul yang kedua. Raja Al-Muzaffar merupakan seorang penguasa yang senang mempelajari karya-karya ilmuwan Muslim dalam bidang kedokteran, farmakologi, pertanian, dan tekonologi.

Raja Al-Muzaffar juga sangat mencintai ilmu pengetahuan. Pada masa kekuasaannya di abad ke-13 M, ia mendukung dan melindungi para ilmuwan dan seniman untuk berkreasi dan berinovasi. Dalam risalahnya, sang raja mengisahkan bahwa Suriah sangat dikenal sebagai penghasil sabun keras yang biasa digunakan untuk keperluan di toilet.

N Elisseeff dalam artikelnya berjudul, Qasr al-Hayr al-Sharqi, yang dimuat dalam Ensiklopedia Islam volume IV menyatakan, para arkeolog menemukan bukti pembuatan sabun dari abad ke-8 M. Saat itu, kekhalifahan Islam sedang menjadi salah satu penguasa dunia.

Geografer Muslim kelahiran Yerusalem, Al-Maqdisi, dalam risalahnya berjudul, Ahsan al-Taqasim fi ma`rifat al-aqalim, juga telah mengungkapkan kemajuan industri sabun di dunia Islam. Menurut Al-Maqdisi, pada abad ke-10, Kota Nablus (Palestina) sangat termasyhur sebagai sentra industri sabun. Sabun buatan Nablus telah diekspor ke berbagai kota Islam.

Menurut Al-Maqdisi, sabun juga telah dibuat kota-kota lain di kawasan Mediterania, termasuk di Spanyol Islam. Andalusia dikenal sebagai penghasil sabun berbahan minyak zaitun. M Shatzmiller dalam tulisannya bertajuk, al-Muwahhidun, yang tertulis dalam Ensiklopedia Islam terbitan Brill Leiden, juga mengungkapkan betapa pesatnya industri sabun berkembang di dunia Islam. "Pada 1200 M, di Kota Fez (Maroko) saja terdapat 27 pabrik sabun," papar Shatzmiller.

Sherwood Taylor, dalam Medieval Trade in the Mediterranean World menyebutkan, pada abad ke-13 M, sabun batangan buatan kota-kota Islam di kawasan Mediterania telah diekspor ke Eropa. Pengiriman sabun dari dunia Islam ke Eropa, papar Taylor, melewati Alps ke Eropa utara lewat Italia.

Selain sabun, dunia Islam pun telah menggenggam teknologi pembuatan beragam alat kosmetik. Salah satunya adalah parfum. Umat Islam di zaman kekhalifahan juga telah mengembangkan teknologi pembuatan parfum hingga menjadi sebuah industri yang sangat besar.

Para sejarawan meyakini bahwa fondasi industri minyak wangi yang berkembang pesat di dunia Islam dibangun oleh dua ahli kimia termasyhur, yakni Jabir Ibnu Hayyan (721-815 M) serta Al-Kindi (805-873 M). Kimiawan Muslim dari abad ke-12, Al-Isybili, mengungkapkan, pada masa kejayaan Islam terdapat tak kurang dari sembilan buku teknis dan pedoman bagi pengelola industri parfum.

Meski begitu, kitab tentang pengolahan minyak wangi atau parfum yang masih tersisa hanyalah Kitab Kimiya' al-'Itr (Book of the Chemistry of Perfume and Distillations) karya Al-Kindi.

Jauh sebelum Al-Kindi, pengembangan industri parfum di dunia Islam juga sempat dilakukan 'Bapak Kimia Modern' Jabir Ibnu Hayyan. Ia mengembangkan beberapa teknik, termasuk penyulingan (distilasi), penguapan (evaporation) , dan penyaringan (filtrasi). Ketiga teknik itu mampu mengambil aroma wewangian dari tumbuhan dan bunga dalam bentuk air atau minyak.

Teknik dan metode dasar yang diletakkan oleh Jabir itu dikembangkan Al-Kindi. Ia melakukan riset dan eksperimen dengan lebih cermat. Al-Kindi mencoba mengombinasikan beragam tanaman dan bahan-bahan lain untuk memproduksi beragam jenis parfum dan minyak wangi. Ilmuwan Muslim asal Kufah, Irak, itu pun berhasil menemukan tak kurang dari 107 metode dan resep untuk membuat parfum serta peralatan pembuatannya.

Begitulah, dunia Islam di era keemasan telah mampu mengembangkan industri sabun dan juga parfum. heri ruslan

Resep Sabun Warisan Peradaban Islam

Minyak zaitun dan al-Qali merupakan bahan utama pembuatan sabun. Bahan lain yang kerap digunakan untuk membuat sabun adalah natrun. Lalu, bagaimana proses pembuatan sabun dilakukan di dunia Islam pada abad ke-13 M? Berikut ini resep pembuatan sabun yang ditulis Daud Al-Antaki seperti dikutip Ahmad Y Al-Hassan dan Donald R Hill dalam bukunya bertajuk, Islamic Technology: An Illustrated History:

Inilah cara membuat sabun yang diwariskan peradaban Islam:

Ambil satu bagian al-Qali dan setengah bagian kapur. Giling dengan baik, kemudian tempatkan dalam sebuah tangki. Tuangkan air sebanyak lima bagian dan aduk selama dua jam. Tangki dilengkapi lubang bersumbat. Setelah pengadukan berhenti dan cairan menjadi jernih, lubang ini dibuka.

Jika air sudah habis, sumbat kembali lubang tersebut, tuangkan air dan aduk, kosongkan dan seterusnya sampai tak ada lagi air yang tersisa. Faksi air di setiap periode dipisahkan. Lalu, minyak yang sudah murni diambil sebanyak 10 kali jumlah air yang pertama tadi, lalu letakkan di atas api. Jika sudah mendidih, tambahkan air faksi terakhir sedikit demi sedikit. Kemudian tambah dengan air faksi nomor dua terakhir, sampai air faksi pertama.

Dari proses itu, akan diperoleh campuran seperti adonan kue. Adonan ini disendok (dan disebarkan) di atas semacam tikar hingga kering sebagian. Kemudian, tempatkan dalam nura (kapur mati). Inilah hasil akhir dan tidak diperlukan lagi pendinginan atau pencucian dengan air dingin selama proses.

Ada kalanya ditambahkan garam ke dalam al-Qali dan kapur sebanyak setengah kali jumlah kapur. Selain itu, juga ditambhakan amilum tepat sebelum proses selesai. Minyak di sini dapat diganti dengan minyak lain dan lemak seperti minyak carthamus.

Itulah salah satu resep pembuatan sabun yang berkembang di dunia Islam. Sejatinya, masih banyak risalah lain yang mengungkapkan formula pembuatan sabun. Salah satunya adalah buah pikir Al-Razi. (rpk/hri)http://www.suaramed ia.com

kebaikan cuka selain dari masakan



SELAIN untuk menambah rasa asam dan menghilangkan bau amis, cuka juga punya manfaat lain. Cuka atau asam asetat ini dapat mengatasi berbagai masalah kebersihan rumah. Mulai dari shower mampet, lantai kusam, hingga membersihkan kerak botol. Cara menggunakannya pun sangat mudah.

1. Shower Mampet
Air yang mengandung besi, tanah, atau pasir halus bisa menjadi biang keladinya. Untuk mengatasinya, siapkan 1 liter air panas, kemudian tuangkan satu cangkir cuka makan dan aduk. Rendam kepala shower dalam larutan tadi selama 10 menit. Angkat, lalu bersihkan. Teratasi sudah masalah shower mampet.

2. Blender Kotor
Penggunaan blender biasanya meninggalkan noda. Terkadang noda tersebut sulit dihilangkan. Jika itu terjadi, gunakan campuran air, sabun cuci piring, dan cuka. Tuang campuran itu ke dalam blender dan nyalakan blender selama 30 detik. Buang campuran air tadi dan bilas dengan air hangat.

3. Lantai Kusam
Lantai keramik yang berusia lebih dari lima tahun biasanya berubah menjadi kotor dan kusam. Untuk membersihkannya, tuangkan cuka ke permukaan lantai. Diamkan selama lima menit. Kemudian bersihkan dengan kain pel hingga bersih. Pel sekali lagi dengan air untuk menghilangkan bau cuka.

4. Karat pada Logam
Untuk menghilangkan karat, siapkan satu sendok makan cuka dicampur satu sendok teh garam. Gosokkan campuran tersebut ke bagian perkakas logam yang berkarat. Setelah karat hilang, bersihkan dengan air dan keringkan.

5. Guci Pecah
Guci pecah pun bukan lagi masalah. Buat campuran dari satu bungkus agar-agar, satu sendok cuka, aduk hingga mengental. Gunakan campuran adonan tadi sebagai lem. Rekatkan setiap bagian pecahan guci. Setelah itu jemur hingga adonan lem kering. Guci pun kembali utuh.

6. Sisa Minyak
Agar noda minyak di panci gampang dibersihkan, tuangkan cuka ke dalam 2 liter air. Celupkan panci berminyak ke dalamnya. Noda minyak akan luntur dan setelah itu bilas panci dengan air bersih.

7. Kerak Botol
Kerak pada botol bisa dibereskan dengan cuka. Masukkan air sabun ke dalam botol. Tambahkan satu sendok makan abu gosok dan satu sendok makan cuka. Biarkan selama 10 menit. Kemudian kocok-kocok dan sikat bagian dalam botol. Kerak dalam botol pun hilang.

Friday, November 6, 2009

doa untuk kelazatan dan tahan lama produk/makanan

Assalamualaikum,

Minggu lepas saya mendapat satu doa yang boleh diamalkan oleh sesiapa sahaja. Dengar cerita doa ini juga diamalkan oleh pekerja halalgel ketika proses pembuatan produk produk mereka.(tahniah kepada halalgel dan HPA kerana implemenkan perkara yang baik nie untuk pekerjanya..insyaallah nanti kilang syukur pun akan melakukan perkara yang sama...amin...)

doa tersebut bersesuaian untuk kaum ibu yang memasak dirumah dan juga pengusaha pengusaha produk tak kisah la makanan ka, ubatan ka, herba kaapa ka....

yang pasti, doa tersebut untuk memohon kepada allah supaya produk kita tu tahan lam dan juga lazat.

Ni ayatnya, ada page satu dan page dua (satu doa).


(kalau nak attachment sila email personally di sukor_pencaktari@yahoo.com.my, kepada yang berkemampuan menyalin kembali doa ini ke dalam word atau softcopy, mintak sendkan kepada saya supaya kita boleh berkongsi doa ini untuk kesejahteraan hidup kita.)

lepas nie x payah dh pakai pelaris ka apa ka...pi tauk buang semua tu..kurafat.

"hanya kepada engkau kami menyembah dan hanya kepada engkaulah kami memohon pertolongan" ayat kelima dari alfatihah.


marilah kita bersama membantu menjana ekonomi muslim.

regards,
Sukor Abdullah.
0194735696

Monday, September 14, 2009

Pengertian beriktikaf

Pengertian beriktikaf

Iktikaf ialah usaha mendiami dan menetap diri di dalam masjid dari seseorang yang tertentu dengan cara-cara tertentu. Dinamakan juga “Jiwar” (Al-Majmu’ An-Nawawi 6/407), dan merupakan suatu Halwah Syar’iyyah. (Kitab Mukhtasar Baghiah Al-Insan min wazaifi Ramadhan libni Rajab m/s 30)

Asas disyariatkan Iktikaf.

Asas disyarakkan iktikaf pada sepuluh akhir Ramadhan ialah :

1.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا : أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللهُ ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ.

Maksudnya : Daripada Aisyah R.A (Isteri Rasulullah SAW) bahawa Nabi SAW selalu beriktikaf pada sepuluh akhir daripada bulan Ramadhan hingga diwafatkannya oleh Allah, kemudian (diteruskan sunnah) iktikaf selepasnya oleh para isterinya. (Muttafaq ‘Alaih (Al-Bukhari 2026, Muslim / 1772).

2.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قال : كَاْنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم يَعْتَكِفُ فِيْ كُلِّ رَمَضَانٍ عَشْرَةَ أَيَّامِ . فَلَمَّا كَانَ الْعَامُ الَّذِيْ قُبِضَ فِيْهِ اعْتَكَفَ عِشْرِيْنَ يَوْمًا.

Maksudnya : Daripada Abi Hurairah R.A, ia berkata : Adalah Nabi SAW selalu beriktikaf pada tiap-tiap Ramadhan sepuluh hari (akhirnya). Manakala pada tahun baginda diwafatkan, baginda beriktikaf dua puluh hari. (Sohih Al-Bukhari 2024)

Dengan itu, nyatalah bahawa iktikaf pada sepuluh akhir Ramadhan adalah sunat yang diamalkan secara berkekalan oleh Nabi SAW dan para isterinya, juga oleh para sahabatnya R.A.

Hukum Iktikaf

Telah Ittifaq (bersepakat) di antara imam-imam mazhab yang empat dan semua orang Islam, bahawa hukum iktikaf pada sepuluh akhir Ramadhan adalah sunat Muakkadah, kerana mengikut sunnah Rasulullah SAW. dan menuntuti Lailatul Qadar. (Syarah Sohih Muslim li An-Nawawi 8/67 , Fathul Bari li Ibni Hajar As-Asqolani 4/272).

Dan tidak khilaf bahawa tidak wajib iktikaf kecuali apabila bernazar dengannya.

Manakala hukum iktikaf pada lain daripada sepuluh akhir Ramadhan dan lain daripada iktikaf nazar yang wajib, maka ia adalah sunat (Istihbab) sahaja. Oleh itu sayugialah bagi tiap-tiap orang yang duduk di dalam Masjid kerana menunggu solat atau kerana lain-lain hal, sama ada hal dunia mahu pun akhirat, bahawa ia niat iktikaf padanya, walaupun ia tidak berpuasa, kerana itu dikira pahala dengannya selama mana ia tidak keluar daripadanya. Dan apabila ia masuk semula ke dalam masjid selepas daripada keluarnya, maka hendaklah ia memperbaharui niatnya. (Syarah Sohih Muslim 8/67)

Kelebihan iktikaf

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : … وَمَنْ اعْتَكَفَ يَوْمًا ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللهِ جَعَلَ اللهُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّارِ ثَلاَثَ خَنَادِقَ . كُلُّ خَنْدَقِ أَبْعَدُ مِمَّا بَيْنَ الْخَافِقَيْنِ.

Maksudnya : Daripada Ibnu Abbas R.A daripada Nabi SAW ia bersabda : … Dan barangsiapa yang beriktikaf satu hari kerana menuntut keredhaan Allah, nescaya Allah jadikan di antaranya dan di antara api neraka (berjauhan) tiga buah parit, di mana jarak di antara tiap-tiap satu parit lebih jauh daripada jarak antara dua mata angin. (Dikeluarkan oleh At-Tabrani dan Al-Hakim, ia berkata : Sohih Al-Isnad (At-targhib wa At-tarhib 2/149 – 150),

Hikmah / tujuan iktikaf

Di antara hikmah dan tujuan iktikaf ialah :

1. Meluangkan diri daripada kesibukan dunia dan anak isteri, demi mencari kejernihan jiwa dan membina kekuatan sebagai bekalan jentera dalam melancarkan kegiatan hidup secara lebih baik. (Syarah Sohih Muslim 8/69, Bada’i As-Sona’i li Al-Kasani 1/107)

2. Kalaulah Ramadhan merupakan sebulan ujian yang penuh dengan rahmat bagi masa setahun, maka iktikaf pada sepuluh hari akhir Ramadhan adalah beberapa hari yang merupakan ujian khas yang lebih tinggi kepada orang-orang yang telah berjaya menempuh ujian Ramadhan secara umumnya, untuk mendapatkan kejayaan khusus yang lebih cemerlang.

3. Berusaha untuk mendapatkan Lailatul Qadar menurut sunnah Rasulullah SAW.

Rukun iktikaf

Rukun iktikaf ada empat perkara :

  1. Berdiam diri di dalam masjid, sekurang-kurangnya sekadar tamakninah di dalam rukuk, dan tidak keluar darinya kecuali ada sebab-sebab yang diharuskan oleh syarak.

  1. Niat pada permulaan iktikaf atau pada pembaharuannya semula, seperti : “Sengaja aku iktikaf sepuluh akhir Ramadhan kerana Allah”.

  1. Orang yang beriktikaf, syaratnya ialah : Islam, berakal, bersih dari haid, nifas dan junub, serta mendapat keizinan suaminya (sekiranya ia adalah seorang isteri) dan tidak (bagi perempuan) di dalam ‘idah. (Al-Umm li As-Syafi’e 1/108, As-Sunan Al-Kubra li Al-Baihaqi 4/323)

  1. Tempat iktikaf, iaitu masjid.

Kenyataan iktikaf dalam masyarakat Islam

Adalah amat sedikit bilangan umat Islam yang beriktikaf pada sepuluh akhir Ramadhan berbanding dengan jumlah mereka yang ada di dunia ini. Itulah makanya sejak zaman dahulu lagi Ibnu Syihab Az-Zuhri pernah berkata :

عَجَبًا لِلْمُسْلِمِيْنَ تَرَكُوْا الإِعْتِكَافَ وَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَتْرُكْهُ مُنْذُ دَخَلَ الْمَدِيْنَةَ حَتَى قَبَضَهُ اللهُ .

Maksudnya : Hairan sekali keadaan orang-orang Islam ! Mereka sanggup tidak beriktikaf (sepuluh akhir Ramadhan) sedangkan Nabi SAW tidak pernah meninggalkan iktikaf sejak baginda datang ke Madinah Al-Munawwarah hingga Allah mewafatkannya. (Fathul Bari 285/4 , Bada’i As-Sona’i 1/108)

Memang tidak sayugia orang meninggalkan iktikaf pada sepuluh akhir Ramadhan … terutama bagi pendakwah-pendakwah dan pejuang-pejuang yang tidak berada di medan perang, juga orang-orang yang mengaku cinta kepada sunnah Rasulullah SAW !

Masjid yang diktikaf padanya

Yang paling baik ialah Masjidilharam di Mekah Al-Mukarramah, Al-Masjil An-Nabawi di Madinah Al-Munawwarah, Al-Masjid Al-Aqsa di Baitul Maqdis dan Masjid-masjid jami’ umumnya secara tertib, menurut besar dan ramai ahlinya. (Al-Umm li As-Syafi’e 1/107)

- Sah iktikaf di dalam semua masjid. (Syarah Sohih Muslim 8/68)

- Sah iktikaf di dalam masjid di atas sutuhnya atau menara yang berhubung dengannya atau rahabahnya (serambinya) atau di kawasan mana sahaja yang dinamakan masjid. (al-Majmu’ 6/436-437)

- Disunatkan seseorang perempuan yang beriktikaf di dalam masjid mengadakan tabir yang dapat melindungi dirinya dari penglihatan, tetapi tidaklah sampai menyempitkan ke atas orang yang bersolat. (Fathul Bari 4/277, Al-Mughni Li Qudamah 3/191)

- Sah iktikaf perempuan di dalam masjid di rumahnya, iaitu di mana-mana satu ruangan dari rumahnya yang disediakan khusus untuk solatnya di sisi Imam Abu Hanifah dan pendapat lama bagi Imam As-Syafi’e.(Syarah Sohih Muslim 8/68, Fathul Bari 4/275 dan Raudhah At-Tolibin 2/398)

- Harus bagi perempuan beriktikaf di dalam masjid bersama-sama dengan suaminya di sisi Al-Hanafiah dan Ahmad. (Bada’i As-Sona’i 2/113, Aujaz Al-Masalik li Kandahlawi 5/204)

- Makruh bagi perempuan beriktikaf di masjid umum yang didirikan solat jemaah di sisi Imam As-Syafie. (Fathul Bari 4/275)

- Suami berhak menahan isteri daripada beriktikaf dan mengeluarkannya daripadanya. (Al-Umm 2/108, Syarah Sohih Muslim 8/70)

Cara beriktikaf sepuluh akhir Ramadhan

1. Dimulai masuk masjid sebelum jatuh matahari bagi petang hari kedua puluh Ramadhan dengan niat iktikaf sepuluh akhir Ramadhan dan keluar daripadanya pada pagi Aidilfitri atau selepas jatuh matahari pada malamnya.

2. Harus bagi orang yang beriktikaf membawa hamparan khas untuknya masuk ke dalam masjid bersamanya dan harus pula mengambil mana-mana satu ruangan dari masjid sebagai tempat khas baginya, sekiranya tidak menyempitkan orang yang bersolat di dalam masjid.

3. Mengadakan solat sunat tahiyyatul masjid dua rakaat, kemudian menetap diri di dalamnya dan tidak keluar daripadanya kecuali ada sebab-sebab yang diharuskan.

4. Harus menjalankan ibadat iktikaf sunat secara tidak penuh atau tidak muwalah seperti iktikaf hanya sehari atau dua hari, nisbah kepada iktikaf di dalam masa sepuluh akhir Ramadhan, atau selang sehari atau hanya waktu malam dan sebagainya. (Fathul Bari 4/283, Raudhah At-Tolibin li An-Nawawi 2/393)

Sebab-sebab diharuskan keluar.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ : كَاْنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم إِذَا اعْتَكَفَ يُدْنِيْ إِلَيَّ رَأْسَهُ فَأَرَجُلُهُ وَكَانَ لاَ يَدْخُلُ الْبَيْتَ إِلاَّ لِحَاجَةِ اْلإِنْسَانِ.

Maksudnya : Daripada Aisyah R.A, ia berkata : Adalah Nabi SAW apabila baginda beriktikaf, baginda menghulurkan / mendekatkan kepalanya kepadaku, maka aku pun menyikatkan rambutnya. Dan baginda tidak masuk ke dalam rumah, kecuali kerana hajat manusia. (Muttafaq ‘Alaih wa Lafz li Muslim 1/244)

Berkata Ibnu Hajar Al-’Asqolani, Maksud :”Hajat Al-insan”. Di sini ialah telah ditafsirkan oleh Az-Zuhri dengan : Buang air kecil dan buang air besar, di mana telah ittifaq oleh semua ulama’ bahawa dikecualikan pada kedua-duanya dan bersalahan pendapat di antara mereka pada yang lain daripada kedua-duanya seperti makan minum. (Fathul Bari 4/273)

Tegas Imam An-Nawawi : Berkata sahabat-sahabat kami : Harus bagi muktakif keluar masjid kerana mandi junub yang hasil dari mimpi dengan tidak khilaf. (Al-Majmu’ 6/430, Raudhah At-Tolibin 2/405)

Walau bagaimanapun , saya dapat rumuskan bahawa sebab-sebab atau keuzuran yang diharuskan bagi muktakif (orang yang beriktikaf) keluar dari masjid-masjid iktikafnya, secara tidak dianggap putus muwalah iktikafnya dan tidak berhajat kepada pembaharuan semula niatnya apabila ia masuk, setelah hilang sebab dan keuzurannya ialah :

1. Qadha hajat :

Iaitu buang air besar dan buang air kecil. Dan tidak mengapa sekiranya ia berwudhu’ di luar masjid, setelah selesai qadha hajat. Juga harus qadha hajat di dalam bilik air di rumah sendiri, walaupun jauh rumahnya dan sekalipun telah sedia ada bilik air di masjid atau di rumah kawan-kawan yang lebih dekat dengan masjid. Dan tidaklah disyaratkan bersangatan kuat rasa hendak qadha hajat bagi mengharuskan seseorang muktakif itu keluar menunaikan qadha’ hajatnya. (Raudhah At-Tolibin 2/405-406)

2. Mandi junub :

Iaitu mandi junub kerana mimpi dan sebagainya.

3. Berwudhu’ :

Kerana hendak berwudhu’ yang wajib, bukan tajdid, itu pun sekiranya tidak dapat berwudhu’ di dalam masjid. (Raudhah At-Tolibin 2/407, Al-Mughni li Ibni Qudamah 3/206)

4. Menyucikan najis :

Kerana menyucikan najis-najis pada badannya atau pakaiannya.

5. Sakit bahaya :

Kerana sakit berat yang boleh mengotorkan masjid. (Raudhah At-Tolibin 2/408)

6. Keluar darah haid :

Adapun keluar darah istihadhoh , maka kebanyakkan ulamak mengharuskan ia iktikaf di dalam masjid sekiranya tidak membawa kepada kekotoran masjid. (Aun Al-Ma’bud syarah Sunan Abi Daud 7/153)

7. Takut bahaya :

Kerana takut bahaya daripada mana-mana pihak. (Al-Umm 2/106, Raudhah At-Tolibin 2/408)

8. Darurat / kecemasan :

Kerana darurat untuk melepaskan diri atau orang lain dari apa-apa kecemasan dan bahaya atau sebagainya.

9. Dipaksa :

Kerana dipaksa oleh mana-mana sebab atau pihak secara kekerasan. (Al-Umm 2/105-106)

10. Makan / Minum :

Kerana hendak makan, sekalipun boleh makan di dalam masjid di sisi mazhab As-Syafie (Al-Umm 2/105-106) , begitu juga kerana hendak minum, sekiranya ia dahaga dan tidak ada air di dalam masjid. Ada pun sekiranya air telah sedia ada di dalam masjid, maka yang lebih sohih ialah ia tidak harus keluar daripadanya. (Al-Majmu’ 6/432-434 dan Raudhoh At-Tolibin 2/405-407)

Adapun di sisi mazhab Al-Maliki, maka tidak diharuskan makan dan minum di luar masjid tetapi diharuskan keluar untuk membeli makanan / minuman jika tidak ada pihak yang menyediakan makanan untuknya. (Mawahib Al-Jalil li Al-Hatob Al-Maliki dan At-Taj wa Al-Iklil li Al-Mawaq Al-Maliki 2/461)

Peringatan / Tambahan :

1. Pembaharuan niat :

Kesemua sebab-sebab atau keuzuran tersebut, apabila telah hilang atau selesai daripadanya, maka hendaklah ia segera kembali masuk semula beriktikaf dengan tidak payah memperbaharui niatnya. Kalau tidak, dikira batal iktikafnya (yakni muwalahnya) dan ia mesti memperbaharui semula niatnya.

2. Acap kali :

Tidak mengapa kalau seseorang muktakif itu acap kali keluar dari masjid tempat iktikafnya, sekiranya acap kali berlaku sebab-sebabnya, seperti senak perut dan sebagainya. (Al-Majmu’ li An-Nawawi 6/432-434, Raudhoh At-Tolibin 2/406)

3. Keluar semua badan :

Tidak diiktibarkan seseorang itu keluar dari masjid kecuali semua tubuh badannya dari masjid, bukan sekadar keluar satu juz daripada tubuh badannya. Kecuali apabila ia keluar dengan dua kakinya dan ia berdiri di atas kedua-duanya, maka diiktibarkan ia keluar, walau pun sebahagian daripada badannya seperti kepala atau tangannya masih berada di dalam masjid. (Raudhoh At-Tolibin 2/404)

4. Keluar dengan lupa :

Tidak dianggap batal iktikaf seseorang yang keluar dari masjid tempat iktikafnya dengan sebab lupa atau tidak sengaja. (Raudhoh At-Tolibin 2/398)

5. Mimpi keluar air mani :

Tidak diiktibarkan batal iktikaf seseorang yang bermimpi sampai keluar mani, tetapi hendaklah segera keluar untuk mandi junub.

6. Tidak mesti tergesa-gesa (terburu-buru) :

Apabila seseorang muktakif itu keluar dari masjid kerana apa-apa sebab dan hajat yang diharuskan, maka tidak disyaratkan ia bersegera … cukuplah dalam kadar biasa ia menjalankan hajat atau kerja hingga dapat menyelesaikannya, tetapi tidaklah sampai terlalu lewat. (Raudhoh At-Tolibin 2/406, Al-Majmu’ 6/429)

7. Hukum sewaktu di luar masjid.

Bersalahan pendapat ulama’ mengenai hukum seseorang yang beriktikaf, sewaktu ia berada di luar masjid kerana sebab-sebab yang diharuskan itu, apakah ia dikira sebagai orang yang beriktikaf atau tidak !.

8. Ziarah orang sakit dan menyaksi jenazah :

Harus bagi orang yang beriktikaf keluar untuk menziarahi orang-orang sakit atau mengebumikan mayat… sekiranya tidak ada orang lain yang mengurusnya. Tetapi apabila ia masuk semula beriktikaf lebih baik ia memperbaharui niatnya, kerana ada khilaf ulama’ mengenai batal (muwalah) iktikafnya. Adapun menziarahi orang sakit sambil melalui jalan kepada satu-satu hajat yang diharuskan tanpa berhenti, maka tidaklah memutuskan muwalah iktikafnya. Rasulullah SAW pernah lalu di tepi orang sakit walhal ia sedang dalam iktikafnya . Baginda hanya bertanya halnya sambil berjalan tanpa berpaling dan berhenti. (Dikeluarkan oleh Abu Daud raqm 2455)

Diriwayatkan daripada Ali RA, ia berkata : Orang yang beriktikaf (boleh) menziarahi yang sakit, menyaksi jenazah, menghadiri Jumaat dan menjumpai ahlinya, tetapi tidak duduk dengan mereka. (Al-Musonif li Ibni Abi Syaibah 8/631, dan Kanz Al-’Umal li Burhan Fauzi 3/87)

9. Solat Jumaat.

Ahli Jumaat yang beriktikaf di masjid yang bukan masjid jamek, hendaklah ia keluar dari tempat iktikafnya untuk pergi menunaikan fardu Jumaat di mana-mana masjid jamek dan batallah muwalah iktikafnya di sisi Al-jumhur. Setelah selesai solat Jumaat hendaklah ia kembali semula ke tempat iktikaf dengan memperbaharui niatnya semula. (Tuhfah Al-Ahwazi Syarah Jami’ At-Tirmizi 3/518-520, Al-Majmu’ 6/442)

Berkata Abu Hanifah dan sahabatnya : Tidak sayugia bagi seseorang muktakif itu keluar daripada masjid kerana satu-satu hajat, kecuali untuk Jumaat, buang air besar dan buang air kecil. Dan sayugia ia keluar kepada solat Jumaat, ketika diazan solat atau sebelumnya sedikit, iaitu sekira-kira selama ia di dalam masjid Jumaat ia sempat solat empat rakaat sebelum Jumaat dan empat rakaat selepasnya. (Bada’i A-Sona’i 1/114, Aun Al-Ma’bud 7/140)

Begitu juga pendapat Imam Ahmad, iaitu harus bagi seseorang yang beriktikaf di masjid yang tidak diadakan Jumaat padanya, keluar kerana bersolat Jumaat, dengan tidak dikira batal (muwalah) iktikaf kerana keluarnya adalah untuk sebab yang wajib dan yang tak dapat tidak baginya. (Al-Mughni 3/192)

Berkata Al-Thauriey, As-Syafi’e dan Ishak : Jikalau sekiranya seorang yang beriktikaf itu telah bersyarat mulai iktikaf bahawa ia akan keluar solat Jumaat atau ziarah orang sakit atau mengiringi jenazah, maka tidaklah batal iktikafnya dengan berbuat demikian. Ini adalah satu riwayat daripada Imam Ahmad (Fathul Bari 4/273), terutama sekiranya iktikaf itu sunat (Aunul Ma’bud 7/140).

Adapun di sisi mazhab Al-Maliki, maka dianggapkan batal juga muwalah iktikaf dengan sebab keluar solat Jumaat, tetapi diharuskan keluar kerana mandi dan membersihkan badan untuk Jumaat. Bahkan diharuskan juga keluar untuk mandi semata-mata kerana tujuan menyejukkan tubuh badan. (Mawahibul Jalil dan At-taj wal Iklil 2/462-463)

10. Kewajipan yang lebih afdhal dari beriktikaf (sunat) :

Sayugia bagi orang yang beriktikaf sunat bahawa ia keluar dari masjid iktikafnya kerana menjalankan satu-satu kewajipan yang lebih tinggi darjatnya dari iktikaf di sisi syarat … walaupun perkara itu adalah membatalkan (muwalah) iktikafnya. Kemudian hendaklah ia segera masuk semula dengan memperbaharui niat iktikafnya.

Suami Isteri semasa Iktikaf

1) Harus bagi isteri orang yang beriktikaf (muktakif) :-

a. Ziarah suaminya yang sedang beriktikaf di masjid dan bercakap dengannya, kerana Sofiyyah bt. Hayy R.A pernah menziarahi suaminya Rasulullah SAW dan bercakap-cakap dengannya sewaktu baginda sedang beriktikaf pada sepuluh akhir Ramadhan. (Sohih Al-Bukhari 24/257)

b. Berkhalwat dengannya dan berseronok (tamatta’) dengannya secara tidak bersyahwat, sama ada di dalam masjid atau di luarnya di sisi Al-Jumhur. (Fathul Bari 4/280, Raudah Al-Talibin 2/392)

c. Menolong suaminya, seperti menyikat rambutnya dan sebagainya, walaupun isterinya itu berada di dalam keadaan haid yang terpaksa dihulur keluar kepala suaminya dari masjid, kerana Aisyah RA pernah menyikat rambut Rasulullah SAW sewaktu baginda sedang iktikaf di dalam masjid. (Sohih Ibn Khuzaimah 3/348-349)

2) Perkara yang dilarang lakukan dengan isteri.

a. Berjimak dengannya, sama ada di dalam masjid atau sewaktu keluar darinya, sama ada di waktu malam atau siang. Apabila mana-mana orang yang beriktikaf itu berjimak dengan isterinya dalam keadaan ia sedar bahawa ia di dalam iktikaf – walaupun di luar masjid – serta tahu bahawa jimak itu dilarang ka atasnya, maka batallah iktikafnya dan hendaklah ia segera mandi junub dan masuk beriktikaf dengan memperbaharui semula niatnya. Kecuali jika sekiranya masa ia berjimak di luar masjid itu terlalu sedikit, kadarnya semasa ia keluar kerana qadha’ hajat … maka khilaf di antara ulama’ mengenai batal iktikafnya atau tidak. Adapun jika jimak dalam keadaan lupa bahawa ia sedang beriktikaf maka batal juga di sisi Jumhur ulama’ kecuali As-Syafie. (Al-Majmu’ 6/433 457 dan Mughni Al-Muhtaj 1/452)

b. Adapun berseronok dengan isterinya secara bersyahwat pada yang lain daripada faraj, maka tidak membatalkan iktikafnya selama tidak keluar air mani di sisi Al-Jumhur. Begitu juga jika ia berusaha mengeluarkan air mani dengan tangan dan sebagainya. (Raudhoh At-Tolibin 2/392, Fathul Bari 4/272)

Perkara yang harus dilakukan.

Harus bagi orang yang beriktikaf melakukan yang berikut :-

1. Berpakaian biasa.

2. Makan / minum di dalam masjid, tetapi disunatkan menggunakan alat-alat seperti hamparan bagi menjaga kebersihan masjid.

3. Memakai bau-bauan.

4. Bekerja dengan pekerjaan yang sedikit.

5. Menyambut tetamu, bercakap dengannya dan menghantarkannya pulang.

6. Sedikit berjual beli pada perkara-perkara yang sangat berhajat.

7. Bercakap biasa.

8. Berkahwin dengan mengahwinkan.

9. Bercukur, menyikat rambut dan mengerat kuku.

10. Belajar dan mengajar. (Al-Umm 2/105, Bada’i Al-Sona’i 2/116)

Perkara yang tidak harus dilakukan

Tidak harus bagi orang yang beriktikaf melakukan perkara yang tidak berfaedah seperti berjual-jual kosong dan apa-apa kerja yang sia-sia, apalagi yang makruh dan yang haram … begitu juga melakukan usaha kehidupan seperti bertukang dan sebagainya. (Al-Majmu’ 6/460, Aun Al-Ma’bud 7/142)

Berkata Ali RA : Mana-mana lelaki yang beriktikaf, maka hendaklah ia tidak memaki orang dan tidak bercakap kotor. ( Al-Mughni 3/203).

Amalan-amalan semasa iktikaf.

Sebenarnya tidak ada bagi iktikaf itu satu-satu amalan dan bacaan yang tertentu yang tsabit dari Rasulullah SAW selain daripada kesungguhan baginda dalam beriktikaf dan beribadat pada sepuluh akhir Ramadhan lebih daripada masa-masa yang lain.

1.

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ : كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم يَجْتَهِدُ فِيْ الْعَشْرِ اْلأَوَاخِرِ مَالاَ يَجْتَهِدُ فِيْ غَيْرِهَا.

Maksudnya : Daripada Siti Aisyah RA, ia berkata : Adalah Rasulullah SAW bersungguh-sungguh (di segi beribadat) pada masa sepuluh akhir Ramadhan lebih banyak daripada (ibadatnya) pada masa-masa lain. (Sohih Muslim raqm 1175 2/832)

2.

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ : كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ وَأَحْيَا لَيْلَهُ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ.

Maksudnya : Daripada Siti Aisyah RA, ia berkata : Adalah Rasulullah SAW apabila masuk sepuluh akhir daripada bulan Ramadhan, bersungguh-sungguhlah baginda pada mengerjakan ibadat (dengan meninggalkan tidur dengan isterinya), baginda menghidupkan malamnya dan menggerakkan isteri-isterinya, (supaya bangkit beribadat bersama-samanya). (Muttafaq ‘Alaih : Sohih Al-Bukhari 2/255, Muslim 2/832)

Berkata An-Nu’man b. Basyir : Kami dapat adakan Qiamullail bersama-sama Rasulullah SAW pada malam yang kedua puluh lima hingga kepada setengah malam dan pada malam yang kedua puluh tujuh hingga kepada masa yang kami sangka kami tak sempat lagi hendak bersahur, kerana terlalu lewatnya. (Dikeluarkan oleh Ibn Khuzaimah raqm 2204, sanadnya hasan).

Berkata As-Syafie dan sahabat-sahabatnya : Adalah sangat baik bagi orang yang beriktikaf bahawa ia memenuhi masanya dengan amalan-amalan taat seperti : solat, tasbih, zikir, membaca/tilawah Al-Quran dan belajar serta mengajar, juga mentalaah kitab-kitab dan menulisnya. (Al-Majmu’ 6/458).

Tetapi setengah ulama’ berpendapat bahawa dikehendaki supaya setiap orang yang beriktikaf itu hanya menumpukan masanya dengan amalan asasi bagi iktikaf sahaja, iaitu zikir, solat, tilawah Al-Quran dan doa. ( Mawahibul Jalil dan Al-Taj Wal Iklil 2/461, Muktasar Baghiah Al-Insan min Wazaifi Ramadhan Libni Rajab, M/s 30).

Seruan dan Khatam

Kalaulah madrasah Qiamullail merupakan sebuah madrasah umum bagi tarbiah rohiyyah yang diasaskan oleh Rasulullah SAW berdasarkan perintah Allah SWT :

قم الليل إلا قليلا (2 Surah Al-Muzammil)

Maka “Iktikaf sepuluh akhir Ramadhan” adalah merupakan “Ibadat khusus yang membawa kepada kemuncak darjat Qiamullail”, kerana ia dibantu oleh Shiam (puasa) Ramadhan pada siang hari dan tartil Al-Quran di malam-malam hari bulan nuzulnya Al-Quran.

Kalaulah “Qiamullail” merupakan amalan umum pada setiap malam di sepanjang tahun … maka amalan iktikaf pada sepuluh akhir Ramadhan merupakan “Amalan / ujian khas” secara lebih hebat dan lebih gigih bagi menaikkan darjat kehidupan Muslim / Muslimat di setiap akhir tahun … Ujian yang mengandungi padanya berbagai-bagai ibadat asas seperti : solat, shiam, zakat, qiamullail, tadarus Al-Quran dan tartil Al-Quran, berbagai-bagai zikir, doa, istighfar, taubat, mujahadah dan muhasabah diri serta mentazkiahkannya…

Itulah barangkali di antara hikmah makanya disyarakkan Qiamullail secara umumnya di awal-awal kedatangan Al-Islam iaitu sewaktu baginda berada di Mekah Al-Mukarramah, manakala ibadat iktikaf yang merupakan kemuncak itu adalah disyarakkan sewaktu baginda berada di Madinah Al-Munawwarah.

MasyaAllah !!! Alangkah jauhnya perbezaan di antara orang yang masuk ujian di akhir tahun secara penuh ikhlas dan ittiba’ (Iktikaf) dengan orang yang tidak masuk ujian….

MasyaAllah !!! Qudwah hasanah Rasulullah SAW amatlah dirasai, tepat dan sesuai dalam menyahut tuntutan fitrah bagi kehidupan manusia yang sangat perlu kepada ketenangan di celah-celah kesibukan kerja demi mengangkat mutu hati, menjernihkan jiwa … atau sekurang-kurangnya memperbaiki jentera hati yang merupakan asas kekuatan kepada daya gerak dalam menuju kemajuan hidup dunia dan akhirat…

MasyaAllah !!! Di manakah kita, wahai ikhwan dan akhawat dengan peraturan Al-Islam yang cukup sempurna ini ? Di manakah kita dengan Qudwah hasanah dari sunnah Rasulullah SAW ini ? Di manakah kita dengan tuntutan fitrah kita yang cukup bersih dan benar ini ?

Ayuh … marilah kita sama-sama membawa diri kita dan keluarga kita untuk mengurung diri beriktikaf dalam sebaik-baik tempat di bumi Allah ini, iaitu masjid, dan di waktu yang sebaik-baik, iaitu sepuluh akhir Ramadhan … kerana menyahuti dan mengikuti sunnah Rasulullah SAW Qauliyyah dan Fe’liyyahnya serta sohih lagi sorih ….

Subhannallah !!! Hairan sekali kepada umat Islam yang telah mendapat kurniaan rezeki Allah SWT secara melimpah ruah… kesihatan badan yang segar bugar, waktu yang cukup lapang dan keadaan yang cukup mengizinkan. Tetapi, pada waktu yang sama, mereka tidak juga beriktikaf !!!. Sedangkan Rasulullah SAW telah menyeru, mengajak dan menekan untuk beriktikaf pada sepuluh akhir Ramadhan … bahkan dalam kesibukan kerja yang penuh – Baginda tetap beramal dengan amalan yang tidak hanya menjadi Qudwah sekadar sekali gus … tetapi berkekalan sehingga diwafat oleh Allah…

Segala dakwaan kesibukan dalam bidangnya adalah tertolak secara cukup malu dan kecil diri di hadapan kesibukan yang berlipat kali ganda yang dihadapi oleh Nabi SAW, baik di peringkat peribadi mahu pun masyarakat dan negara … juga oleh para sahabatnya Radiallahu ‘Anhum !!!.

Akhir sekali, marilah sama-sama kita beriktikaf pada sepuluh akhir Ramadhan … nescaya kita dikurniakan Lailatul Qadar dan kelebihannya yang banyak, Aaminn.

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْلَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ ، عَلَى اللهِ تَوَكَّلْنَا ، رَبَّنَا لاَ تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِلْقَوْمِ الظَّالِمِيْنَ وَنَجِّنَا بِرَحْمَتِكَ مِنَ الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ . رَبَّنَا اغْفِرْلِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ يَوْمَ يَقُوْمُ الْحِسَابُ . رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ ، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَابُ الرَّحِيْمُ …

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّم ، سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ ِلله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ…

Thursday, September 10, 2009

Solat Istikharah, Tata Cara dan Doa

Solat Sunnat Istikharah

Solat ini dilakukan untuk mendapatkan petunjuk, terutama bila seseorang dalam keraguan memutuskan mana yang terbaik diantara dua perkara yang diragukan. Jika timbul keraguan dalam hati untuk memilih atau mengambil keputusan dalam sesuatu perkara, contohnya: apakah aku harus menolak atau menerima? Keraguan makin terasa, keputusan tidak dapat dipastikan setelah melihat masing-masing ada kelebihan dan keburukannya.

Oleh yang demikian, hendaklah menyerahkan pada Yang Maha Kuasa untuk memilihnya. Sebelum seseorang mengambil keputusan ia dianjurkan solat istikharah dua rakaat.

Dengan mengharapkan agar ditunjukkan Allah untuk mendapatkan pilihan yang terbaik. Jika keraguan masih mempengaruhi fikiran untuk menentukan pilihan, ulangilah solat istikharah dan membaca doanya, walaupun pengulangan sampai 7 kali berturut-turut. Selepas itu, bertawakkal kepada Allah, pilihlah salah satu daripadanya, ambillah yang mana arah ‘hati’ lebih cenderung setelah berdoa. Jangan menimbulkan lagi keraguan, yakinlah bahawa itu adalah pilihan terbaik dari yang Maha Kuasa.

Jangan merasa kecewa andai ternyata dalam keputusan yang dipilih menimbulkan keinginan yang tidak disukai. Ingatlah bahawa ini adalah yang telah digariskan pada azali yang tidak dapat dielakkan, besar kemungkinan mengandungi hikmah, membawa kebaikan dimasa akan datang, hendaklah tetap mempunyai husnuz-zan kepada Allah.

Tata Cara Shalat Istikharah

Tata cara solat istikharah lebih kurang sama dengan solat subuh, Hanya niatnya saja yang berlainan, iaitu berniat solat istikharah. dilaksanakan sebelum tidur ataupun setelah bangun tidur. Sangat baik dilakukan sesudah lewat tengah malam disaat sunyi, supaya hati lebih khusyuk dalam mengemukakan permohonan kepada Allah. Solat ini sangat peribadi sifatnya. Sebab itu harus dikerjakan sendirian. Solat ini tidak memakai azan atau iqamah.

Lafaz niat:-

Ushalli Sunnatal Istikharaati Rak’ataini Lillahi Ta’aala

Sahaja Aku sembahyang sunnat istikharah 2 rakat tunai kerana Allah Ta’ala

Rakaat pertama-

Baca surah Al-fatihah dan surah Al-kafirun

Rakaat kedua-

Baca surah Al-fatihah dan surah Al-ikhlas

Selepas salam, bacalah doa yang disarankan dalam istikharah.

Dalam berdoa sebaiknya menyebutkan permintaan yang ingin diberikan petunjuk oleh Allah s.w.t. misalnya: “Ya Allah, jikahal ini….(sebutkan namanya)”

Doa istikharah

Setelah selesai solat, berdoa seperti yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW:

Allaahumma inni astakhiiruka bi’ilmika, wa astaqdiruka biqudratika wa as aluka min fadhlikal azhiim. Fa innaka taqdiru wa laa aqdiru, wata’lamu wa laa a’lamu, wa anta allaamul ghuyuub.

Allaahumma inkunta ta’lamu anna haadzal amra khairun lii fii diinii wama’aasyii wa ‘aaqibati amrii, ‘aajili amrii wa aajilihi faqdurhu lii wa yassirhu lii tsumma baarikliifiihi. Wa inkunta ta’lamu anna haadzal amra syarrun lii fii diinii wa ma’aasyii wa ‘aaqibatu amrii ‘aajili amrii wa aajilihi fashrif annii washrifni ‘anhu waqdur liyal khairahaytsu kaana tsumma ardhinii bihi, innaka ‘alaa kulli syai-in qadiir

Ertinya:-

“Ya Allah, aku memohon petunjuk memilih yang baik dalam pengetahuanMu, aku mohon ditakdirkan yang baik dengan kudratMu, aku mengharapkan kurniaMu yang besar. Engkau Maha Kuasa dan aku adalah hambaMu yang dhaif. Engkau Maha Tahu dan aku adalah hambaMu yang jahil. Engkau Maha Mengetahui semua yang ghaib dan yang tersembunyi.

Ya Allah, jika hal ini (***) dalam pengetahuanMu adalah baik bagiku, baik pada agamaku, baik pada kehidupanku sekarang dan masa datang, takdirkanlah dan mudahkanlah bagiku kemudian berilah aku berkah daripadanya.

Tetapi jika dalam ilmuMu hal ini (***) akan membawa bencana bagiku dan bagi agamaku, membawa akibat dalam kehidupanku baik yang sekarang ataupun pada masa akan datang, jauhkanlah ia daripadaku dan jauhkanlah aku daripadanya. Semoga Engkau takdirkan aku pada yang baik, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas setiap sesuatu.”

Tuesday, September 8, 2009

Doa Sebelum memulakan sebarang kegiatan pada setiap hari.

Assalamualaikum.... Doa Sebelum memulakan sebarang kegiatan pada setiap
hari.


Ya Allah, Ya Tuhan Kami,

Kami sambut kedatangan hari ini dengan
kesyukuran kepada Mu. Sempurnakan nikmatMu untuk
kami pada hari ini dan kekalkanlah nikmat yang
telah engkau kurniakan kepada kami selama ini
dan kurniakan kelazatan untuk kami dalam
mengecap akan segala nikmat yang dikurniakan kepada kami.

Ya Allah Ya Tuhan Kami,

Kami memohon kepada Mu akan nikmat
secukup-cukupnya, memohon kesihatan
semulia-mulianya, memohon rezeki
semewah-mewahnya, memohon umur setua-tuanya,
memohon rahmat dan nikmat sebanyak-banyaknya,
memohon anugerah sebaik-baiknya, memohon sifat
lemah lembut yang sehalus-halus Hikmahnya,
memohon amal yang sebenar-benar faedahnya.

Aminnn.

Wednesday, July 22, 2009

CARA MELIHAT KASUT KULIT BABI

Salam,

sejak kebelakangan ini, telah banyak kes golongan muslim yang terbeli barangan kulit dari kulit babi, even wife saya sendiri telah3 kali terbeli kasut yang di perbuat dari kulit babi ini.

hasilnya, saya lebih berhati hati ketika menemani isteri tercinta ketika membeli kasut, terlanjur dengan itu, saya ingin berkongsi ilmu yang saya dapat ini dengan seluruh umat muslim bagi mengelakkan anda semua terguna barangan yang diperbuat dari kulit babi ini. semoga ada manafaatnya dan saya juga ingin menyeru kepada anda semua supaya sampaikan ilmu ini kepada rakan rakan yang lain.
________________________________________________________________________________________________
Banyak barangan kulit dipasaran terutama yang berselindung di sebalik harga murah diperbuat dari KULIT BABI. Antara barangan tersebut seperti kasut terutama kasut kanak-kanak.

Berhati-hatilah. Boleh guna panduan dibawah untuk mengenali kulit babi. Lepas tu balik check semua barangan kulit kita.





Tengok pada bintik-bintik 3 seperti segitiga.